RSS

Arsip Kategori: Materi Kuliah

Automatic Storage Management (ASM)

Hari Kamis pukul 18.30 Waktu nya kuliah di Ruang KSR. Nunggu dan nunggu yang semuala HP ku sepi kini berbunyi, ku baca ternyata sms dari temen kalau Kuliah ditiadakan tapi diberi tugas. yah Mencari tentang Apa itu ASM. Kucari dan kucari ku oprek dan ku oprek sampai kepala jadi sobek (nganyal hehe) Bahkan Ku cari di KITAP SUCI Oracle Buatannya ROHMAD.NET tidak ada. yah gimana lagi harus searching semangat bangun pagi…
dan tha tha ini hasilnya. semoga benar…

ASM lebih ke redudensi data agar tidak terlalu banyak, mengamankan data agar tidak terjadi duplikasi data yang gak dipakai alias seperlu nya saja.

langsung ini hasil pencarian dari mbah google..<<<<< Terimakasih mbah GOOGLE…qm punya pahala yang banyak hehe.

 

NAMA : IKA NUR DIANTIKA

NIM : E3110358

KELAS : MIF B

 

MATA KULIAH : ADMIN. BD

AUTOMATIC STORAGE MANAGEMENT (ASM)

1. Pengertian Automatic Storage Management (ASM)

ASM Oracle 10g memiliki banyak fitur yang menguntungkan, merupakan revolusi dari versi sebelumnya yaitu Oracle 9i dan 8i. Automatic Storage Management (ASM) yang dimiliki oleh Oracle 10g ini dapat meningkatkan kemampuan dalam memanajemen dan menkonsolidasikan antar data dalam basis data/ database. Oracle 10g merupakan DBMS yang mampu mengoptimalisasikan tugas-tugas dalam database, Oracle 10g di sini mengidentifikasikan dari teknologi grid computing. Fungsi dasar dari ASM adalah melakukan manajemen penyimpanan data pada storage dengan mendefinisikan storage berdasarkan grup-grup tertentu untuk mengurangi adanya redundansi data, khususnya ketika seorang DBA melakukan penyimpanan data. Real Aplication Cluster (RAC), merupakan komponen dari Oracle 10g yang senantiasa membantu penyederhanaan dan pengoptimasisasian dalam menajemen file database yang dilakukan oleh ASM. RAC dapat juga digunakan oleh sistem database untuk mendukung implementasi across multiple server.

clip_image004

Gambar 1. Configurasi ASM

Dengan adanya ASM, kita tidak perlu lebih ekstra dalam menyediakan sumber penyimpanan data dalam manajemen basisdata. Kecerdasan ASM’s memungkinkan pengunaan triple data protection, suatu teknologi yang memberikan 3 pilihan konfigurasi ASM dalam memanajemen basisdata, yaitu:

1.High

2.Normal

3.Eksternal

ASM berkerja di wilayah kluster sehingga memungkinkan penanganan instan ASM per kliendalam instan database. Untuk mengoptimalisasikan kemampuan dan manajemen, instan ASM dapat di installisasi diantara parameter ORACLE_HOME yaitu di ASM_HOME.ASM juga meningkatkan performa I/O, file database dapat didistribusikan silang antara device yang sedang aktif sehingga dapat mengembalikan keseimbangan dan menjaga kinerjadari database. Kemampuan ASM dalam meningkatkan kemampuan dalam memanajemen  basisdata dapat terlihat dari adanya duplikasi data sebagaimana backup data yang dilakukan dalam recovery. Untuk menyiapkan hardisk agar dapat dilakukannya konfigurasi ASM pada waktu instalisasi Oracle, khsusnya melalui OS Windows NT, setidaknya ada 2 point penting yang mesti diperhatikan, yaitu:

1. Investigasi kondisi space yang ada dalam hardisk .

2. Gunakan fasilitas partisi disk (DISKPART.EXE) .untuk membuat partisi dengan type primary dan size yang dibutuhkan Sebagai contoh

clip_image005

Gambar 2. Partisi type primary dan size

clip_image007

Gambar 3. List Volume

2. Manfaat Automatic Storage Management (ASM)

Automatic Storage Management (ASM) yang dimiliki oleh Oracle 10g ini dapat meningkatkan kemampuan dalam memanajemen dan menkonsolidasikan antar data dalam basis data/ database.

clip_image009

Fungsi dari Automatic Storage Management (ASM)

Melakukan manajemen penyimpanan data pada storage dengan mendefinisikan storage berdasarkan grup-grup tertentu untuk mengurangi adanya redundansi data, khususnya ketika seorang DBA melakukan penyimpanan data. Automatic Storage Management (ASM) menyediakan fungsionalitas sebagai berikut:

* Mengatur kelompok disk, disebut disk group.

* Mengelola disk redundansi dalam suatu disk group.

* Menyediakan dekat-optimal I / O menyeimbangkan tanpa tuning manual.

* Memungkinkan manajemen objek database tanpa menyebutkan mount point dan nama file.

* Mendukung file ukuran besar.

 

Semoga Bermanfaat.

SUMBER

http://www.scribd.com/doc/54030161/ASM

http://14i14.wordpress.com/category/dba/

 

Tag: , , , , , , , , ,

CONTEXT DIAGRAM Sistem Informasi Akuntansi Tembez Keripik Tela Balado

Melanjutkan program kerja yang sudah dibuat yaitu dokument Flowchart maka langkah selanjutnya membuat context diagram… seperti bagan berikut.

CONTEXT DIAGRAM

clip_image002

Keterangan :

Pembuatan context diagram dapat dilihat pada gambar di atas mewakili proses dari keseluruhan sistem. Dalam context diagram ini terdapat 2 bagian, yaitu pemilik dan akuntan. Context diagram pada bagian akuntan menggambarkan proses memasukkan data pengeluaran kas non usaha, data pemasukan kas non usaha, data pembelian, data penjualan, data akun, data barang, data supplier, data user, dan data pelanggan. Sedangkan context diagram pada bagian pemilik menggambarkan proses output menerima laporan keuangan dari Sistem Informasi Tembez Keripik Tela Balado.

DFD (DATA FLOW DIAGRAM)

clip_image004

Keterangan :

Dalam DFD Level 0 tersebut terdapat dua entity yaitu Akuntan dan Pemilik Usaha Tembez Keripik Tela Balado itu sendiri. Sedangkan proses-proses yang terdapat dalam DFD Level 0 diatas adalah pada bagian Akuntan yang bertugas untuk Proses Mengisi Data Akun, Proses Mengisi Data User, Proses Mengisi Data Suplier, Porses Mengisi Data Pembelian, Proses Mengisi Data Pelanggan, Proses Mengisi Data Penjualan, Proses Mengisi Data Barang, Proses Mengisi Data Pengeluaran Kas Non Usaha, Proses Mengisi Data Pemasukan Kas Non Usaha, Proses Pembuatan Jurnal, dan Proses Pembuatan Buku Besar.

Penjelasan mengenai proses-proses tersebut diatas adalah sebagai berikut :

1. Proses Mengisi Data Akun, Akuntan memberikan inputan berupa data-data akun yang kemudian disimpan dalam database Data Akun, dimana nantinya data akun ini akan digunakan dalam proses mengisi data jurnal.

2. Proses Mengisi Data User, Akuntan memberikan inputan berupa data-data user yang kemudian disimpan dalam suatu database yaitu database Data User.

3. Proses Mengisi Data Suplier, Akuntan memberikan inputan berupa data-data suplier yang kemudian disimpan dalam database Data Suplier.

4. Proses Mengisi Data Pembelian, Akuntan memberikan inputan berupa data-data pembelian yang kemudian disimpan dalam database Data Pembelian, dimana nantinya data pembelian ini akan digunakan dalam proses mengisi data jurnal.

5. Proses Mengisi Data Pelanggan, Akuntan memberikan inputan berupa data-data pelanggan, dimana data-data tersebut disimpan dalam suatu database yaitu database Data Pelanggan.

6. Proses Mengisi Data Penjualan, Akuntan memberikan inputan berupa data-data penjualan atau data-data transaksi yang telah terjadi yang kemudian disimpan dalam database Data Penjualan, dimana nantinya data penjualan ini akan digunakan dalam proses mengisi data jurnal.

7. Proses Mengisi Data Barang, Akuntan memberikan inputan berupa data-data barang, dimana data-data tersebut disimpan dalam suatu database yaitu database Data Barang.

8. Proses Mengisi Data Pengeluaran Kas Non Usaha, Akuntan memberikan inputan berupa data-data pengeluaran kas yang kemudian disimpan dalm database Data Kas, dimana nantinya data pengeluaran kas non usaha ini akan digunakan dalam proses mengisi data jurnal.

9. Proses Mengisi Data Pemasukan Kas Non Usaha, Akuntan memberikan suatu inputan yang berupa data-data pemasukan kas yang kemudian disimpan dalam database yang sama yaitu database Data Kas, dimana nantinya data pemasukan Kas Non Usaha ini akan digunakan dalam proses mengisi data jurnal.

10. Proses Pembuatan Jurnal, Akuntan memberikan inputan berupa data akun yang diambil dari database Data Akun dalam Proses Mengisi data Akun, data pembelian yang diambil dari database Data Pembelian dalam Proses Mengisi data Pembelian, data penjualan yang diambil dari database Data Penjualan dalam Proses Mengisi data Penjualan, dan data kas yang diambil dari database Data Kas dalam Proses Mengisi Data Pengeluaran Kas Non Usaha dan Pemasukan Kas Non Usaha. Kemudian data-data tersebut diolah menjadi sebuah jurnal yang disimpan dalam suatu database yaitu database Jurnal.

11. Proses Pembuatan Buku Besar, Akuntan menginputkan data jurnal yang telah disimpan di dalam database Jurnal untuk diproses menjadi buku besar dan menghasilkan output berupa laporan keuangan yang akan diberikan kepada pemilik.

Bersambung

 

Tag: , , ,

Dokument Flowchart Tembez Keripik Tela Balado

image

Keterangan :

SISTEM INFORMASI AKUTANS UNTUK USAHA TEMBEZ KERIPIK TELA BALADO.

Proses untuk Diagram Flowchart yang terdapat di dalam usaha Tembez Keripik Tela Balado memiliki sub bagian yang memilik tanggung jawab masing-masing. Yang setiap sub bagian akan saling bertanggung jawab dan saling terkait dengan sub bagian lainnya. Sub bagian tersebut meliputi Bagian Pembelian Barang, Kasir, Akuntan, Pemilik. Proses untuk setiap sub bagiannya adalah :

A. Bagian Pembelian Barang

1. Bagian pembelian barang yang memiliki nota pembelian dari suplier. Pembelian barang memiliki nota sebagai barang buktri transaksi pembelian bahan baku keripik tela.

B. Kasir

2. Pada sub bagian kasir memiliki tanggung jawab untuk input data penjualan produk. Penjualan yang sudah diproses sehingga perlu input data untuk kepeluan laporan rugi laba.

3. Data penjualan yang sudah diinput akan disimpan dalam proses kumputerisasi dalam bentuk database, yang dapat diolah dan diproses untuk langkah selanjutnya.

4. Data disimpan.

5. Data yang sudah disimpan diolah kembali oleh sub bagian Akuntan

C. Akuntan

6. Awal Akuntan akan memproses data pembelian bahan baku beserta data penjualan produk yang sudah di inputkan oleh sub bagian Pembelian Barang dan sub bagian Kasir.

7. Laporan yang di terima kan di inputkan dalam proses komputerisasi dan disimpan dalam bentuk database yang akan diolah kembali untuk langkah selanjutnya.

8. Setalah data pembelian dan penjualan di proses oleh sub bagian akuntasi selanjutnya adalah melakukan proses pembuatan jurnal.

9. Proses pengolahan pembelian dan penjualan yang dilakukan secara komputerisasi.

10. Penyimpanan data yang sudah di proses

11. Jurnal yang sudah di proses dan simpan dalam bentuk database.

12. Setelah pembuatan dan penyimpanan penjualan dan pembelian maka langkah selanjutnya pembuatan Jurnal. Prosesnya meliputi input data-data yang dibutuhkan dalam pembuatan Jurnal.

13. Proses pengolahan jurnal yang diinputkan secara komputerisasi

14. Data Jurnal yang sudah disimpan setelah proses pengerjaan.

D. Pemilik

15. Pemilik merupakan sub bagian yang bertugas untuk mengecek dan melihat laporan keuangan yang sudah dibuat oleh sub bagian Akuntan. Laporan yang dibuat berupa dokument berserta file yang terdapat dalam sistem informasi.

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada 6 April 2012 in Sistem Informasi Akuntansi

 

Tag: , , ,

TUGAS GIS 2 – KOORDINAT

NAMA : Ika Nur Diantika
NIM : E3110358
GOL : B

MATA KULIAH : SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS

TUGAS 2

1. Koordinat adalah pernyataan geomatrik yang menetukan posisi satu titik dengan mengukur besar vektor terhadap satu Posisi Acuan yang telah didefinisikan. Posisi acuan dapat ditetapkan dengan asumsi atau ditetapkan dengan suatu kesepakatan matematis yang diakui secara universal dan baku. Jika penetapan titik acuan tersebut secara asumsi, maka sistim koordinat tersebut bersifat Lokal atau disebut Koordinat Lokal dan jika ditetapkan sebagai kesepakatan berdasar matematis maka koordinat itu disebut koordinat yang mempunyai sistim kesepakatan dasar matematisnya.

2. Dalam GIS ada 2 sistem koordinat yang biasa digunakan, yaitu
1. Koordinat Geografi.
Koordinat Geografi pada Proyeksi UTM mempunyai referensi Posisi Acuan dan arah yang sama yaitu Titik Pusat Proyeksi untuk posisi dan arah utara Grid di Meridian Pusat sebagai arah acuan. Permasalahan yang timbul adalah :
1. SATUAN (unit) . Besaran Pada Koordinat Geografi dinyatakan dalam besaran sudut (derajat), besaran pada Koordinat UTM dinyatakan besaran panjang (meter).
2. Bidang persamaan, pada Koordinat geografi dinyatakan sebagai permukaan Elipsoid, sedang bidang persamaan UTM merupakan bidang datar.

2. UTM (Universal Transverse Mercator).
Pada Proyeksi UTM, sistim koordinat yang digunakan adalah Orthmetrikl 2 Dimensi, dengan satuan mete,r kesepakatan posisi titik Acuan berada di pusat proyeksi yaitu perpotongan proyeksi garis Meridian Pusat pada Zone tertentu dengan lingkaran Equator dan di-definisikan sebagai :
N(orth) : 10,000,000 m
E(ast) : 500,000 m
Penentuan Zone: Zone ditentukan dengan :

Dimana :
Bujur = Bujur ditengah daerah Pemetaan
3º = Lebar 0.5 Zone
30 = Nomor Zone di Greenwich
Kesimpulan, Parameter Koordinat UTM terdiri dari komponen North/East dan informasi Zone. (Kontur bukan merupakan parameter koordinat.)
Pada Sistim Proyeksi Lokal, titik acuan dapat berupa Patok, Paku, Pojok Bangunan dll, dengan asumsi nilai X,Y sebarang, dengan arah Utara Grid sebarang. Koordinat ini dapat pula disebut Koordinat Relatip. Jika pada kemudian hari koordinat “Patok” tersebut dapat ditentukan hubungannya terhadap Sistem Koordinat Nasional, maka Sistim Koordinat dapat diubah menjadi Sistem Koordinat Baku. Proses ini disebut juga TRANSFORMASI.

Jadi hubungan antara Koordinat Geografi dan UTM adalah :

3. Datum Adalah Ada suatu ‘tugas’ yang diberikan Pak Lurah kepada dua kelompok orang, sebut saja Kelompok A dan Kelompok B untuk mengukur jarak dua tiang listrik di depan rumah Pak Lurah. Tiang listrik sebut berbentuk silinder sempurna (tidak seperti tiang listrik pada kenyataannya, ya namanya juga mengandai-andai) dan juga tegak lurus sempurna. Kelompok A mengukur jarak antar pangkal batang, tepat di atas tanah. Kelompok B mengukur di lain waktu pada jarak antar puncak tiap tiang listrik.

Gambar 1. Jarak dua tiang berbeda pada pangkal (A) dan puncak (B)
Dengan asumsi bahwa kedua kelompok tersebut mampu mengukur tanpa adanya kesalahan (manusia, alat, dsb), hasil pengukuran kedua kelompok tersebut akan berbeda. Penyebab perbedaan adalah perbedaan referensi waktu mengukur; kelompok A mengukur di pangkal tiang, sedangkan kelompok B di ujung tiang. Lho kok bisa berbeda? Jawabannya karena kedua tiang tegak lurus sempurna. Masih ingat bukan bahwa bumi ini relatif bulat. Jarak dua tiang di pangkal (permukaan tanah) pasti lebih pendek daripada jarak dua tiang di bagian ujung.
Pak Lurah yang ngeh geospasial cuma tersenyum. Kemudian beliau mengambil hasil perhitungan dari kelompok B dan mentransfer hasil perhitungan tersebut ke referensi dimana Kelompok A melakukan pengukuran jarak tiang listrik; yaitu tepat di atas permukaan tanah. Hasil perhitungan pun sama persis. Di sini lah perlu referensi pengukuran. Pak Lurah sudah memilih referensi pengukuran di pangkal tiang listrik. Pada kasus Pak Lurah tersebut, referensi (datum) diperlukan karena jarak tiang listrik di pangkal dan di ujung berbeda akibat melengkungnya permukaan bumi.
Untuk memperjelas mengapa jarak tiang di pangkal dan ujung berbeda, kiranya bisa kita lihat dari contoh lainnya berikut. Katakanlah jarak Jakarta – Banjarbaru adalah 950.000 m (kota dianggap satu titik, pengukuran persis). Jika ada dua helikopter sedang terbang helikopter 1 terbang di atas Jakarta dan helikopter 2 di atas Banjarbaru (persisi di atas kedua titik kota tersebut), jarak antara kedua helokopter tersebut tentu akan lebih besar dibandingkan dengan jarak Jakarta-Banjarbaru karena berada pada radius lebih luar dari bumi.
Pada area yang lebih luas, jika kita mendapat informasi bahwa Jarak Jakarta – New York adalah 16.186.139 m, kita tidak akan mempertanyakan apakah jarak tersebut melengkung mengikuti permukaan bumi atau lurus menerobos tengah-tengah bumi karena kita semua sudah menerima bahwa pasti jarak tersebut adalah melengkung mengikuti permukaan bumi.
Pertanyaan selanjutnya adalah melengkung mengikuti permukaan bumi itu bagaimana? Memang bagaimana sih bentuk bumi yang dipakai sebagai referensi pengukuran, termasuk yang digunakan oleh Pak Lurah untuk mengukur jarak dua tiang listrik.
Para ahli sudah mencoba membuat suatu replika bumi ke dalam persamaan-persamaan matematis yang dinilai mendekati permukaan bumi, contohnya [W:WGS84]. Ini lah yang disebut datum. Tujuan adanya datum adalah sebagai referensi pengukuran.
Kesepahaman tentang datum yang digunakan sangat berguna dalam pengukuran. Kesepakatan tentang datum ini kiranya dapat membuat Kelompok B melakukan pengukuran jarak tiang di pangkal tiang, bukan di ujung tiang. Atau kalau pun melakukan pengukuran di ujung tiang, hasil pengukuran ditransfer (seperti yang Pak Lurah lakukan) ke hasil pengukuran di pangkal tiang (di datum). Hal terakhir lah yang kita lakukan. Kita tidak tahu di mana itu datum, mungkin beberapa puluh meter di bawah permukaan tanah yang sedang kita ukur, yang penting hasil pengukuran kita kita sematkan ke seolah-olah pengukuran di bidang datum.

4. Jenis geodetik menurut metodenya :
 Datum horizontal adalah datum geodetik yang digunakan untuk pemetaan horizontal. Dengan teknologi yang semakin maju, sekarang muncul kecenderungan penggunaan datum horizontal geosentrik global sebagai penggganti datum lokal atau regional.

Jenis geodetik menurut metodenya :
 Datum vertikal adalah bidang referensi untuk sistem tinggi ortometris. Datum vertikal digunakan untuk merepresentasikan informasi ketinggian atau kedalaman. Biasanya bidang referensi yang digunakan untuk sistem tinggi ortometris adalah geoid.

Jenis datum geodetik menurut luas areanya :
 Datum lokal adalah datum geodesi yang paling sesuai dengan bentuk geoid pada daerah yang tidak terlalu luas. Contoh datum lokal di Indonesia antara lain : datum Genoek, datum Monconglowe, DI 74 (Datum Indonesia 1974), dan DGN 95 (Datum Geodetik Indonesia 1995).

Datum regional adalah datum geodesi yang Menggunakan ellipsoid referensi yang bentuknya paling sesuai dengan bentuk permukaan geoid untuk area yang relatif lebih luas dari datum lokal. Datum regional biasanya digunakan bersama oleh negara yang berdekatan hingga negara yang terletak dalam satu benua. Contoh datum regional antara lain : datum indian dan datum NAD (North‐American Datum) 1983 yang merupakan datum untuk negara‐negara yang terletak di benua Amerika bagian utara, Eurepean Datum 1989, dan Australian Geodetic Datum 1998

5. Proyeksi adalah suatu cara dalam usaha menyajikan dari suatu bentuk yang mempunyai dimensi tertentu ke dimensi lainnya. Dalam hal ini adalah dari bentuk matematis bumi (Elipsoid atau Elip 3 dimensi) ke bidang 2 dimensi berupa bidang datar (kertas). Proyeksi peta tidak lain adalah teknik memindahkan bidang lengkung permukaan bumi ke bidang datar yang berupa peta.
Tujuan pokok suatu proyeksi peta adalah menggambarkan bentuk bola bumi/globe ke bidang datar yang disebut peta dengan distorsi sekecil mungkin. Seperti telah dijelaskan di bagian depan, untuk mencapai ketiga syarat ideal suatu proyeksi adalah hal yang tidak mungkin, dan untuk mencapai suatu syarat saja untuk menggambarkan seluruh muka bumi juga merupakan hal yang tidak mungkin. Yang mungkin dipenuhi ialah salah satu syarat saja dan itupun hanya untuk sebagian dari permukaan bumi. Suatu kompromi atau jalan tengah antara syarat-syarat di atas bisa diambil, guna memungkinkan membuat kerangka peta yang meliputi wilayah yang lebih luas.

Macam – Macam Bidang Proyeksi Peta

6. Macam – Macam proyeksi peta
Proyeksi peta dapat dibedakan sebagai berikut:
a. Menurut Bidang Proyeksinya
1. Proyeksi Azimuthal/zenithal/planar bila bidang proyeksinya berupa bidangdatar.
2. Proyeksi silinder bila bidang proyeksinya berupa silinder atau tabung.
3. Proyeksi kerucut bila bidang proyeksinya berupa kerucut atau cone.

b. Menurut Posisi Bidang Proyeksinya Terhadap Bola Bumi
1. Proyeksi tegak atau normal, jika garis karakteristik bidang proyeksi berimpitdengan sumbu bola bumi.
2. Proyeksi melintang atau transversal atau equatorial, bila garis karakteristik bidang proyeksi berpotongan tegak lurus dengan umbu bola bumi.
3. Proyeksi oblique atau miring, bila garis karakteristik bidang proyeksinya membentuk sudut lancip dengan sumbu bola bumi.

c. Menurut Sifat Distorsinya
1. Proyeksi ekuidistan, bila jarak di permukaan bumi sama dengan jarak di peta menurut skalanya.
2. Proyeksi konform, bila sudut/bentuk di permukaan bumi sama dengan bentuk di peta.
3. Proyeksi ekuivalen, bila luas di permukaan bumi sama dengan luas di peta setelah diskalakan.

d. Menurut Posisi Pusat Proyeksi
1. Proyeksi Gnomonis, bila pusat bola bumi merupakan pusat sumber proyeksi.
2. Proyeksi Stereografis, bila pusat sumber proyeksi terletak pada titik di permukaan bumi.
Proyeksi Ortografis, bila pusat sumber proyeksi berasal atau terletak di tempat yang sangat jauh tidak terhingga sehingga garis-garis proyeksi dianggap sejajar.

SUMBER :
http://geografiuntukmu.blogspot.com/2011/04/proyeksi-peta.html
http://gis-indonesia.blogspot.com/2011/05/sistem-proyeksi-koordinat-utm-universal.html
http://www.raharjo.org/rsgis/apa-itu-datum.html
http://ariyanto.staff.uns.ac.id/files/2010/05/2-indraja.pdf

 
 

Tag: , , , , ,

SISTEM BASIS DATA TERDISTRIBUSI (SBDT)

NAMA : IKA NUR DIANTIKA
NIM : E3110358
GOL : B

MATA KULIAH : SISTEM BASIS DATA TERDISTRIBUSI
1. Jelaskan secara singkat apa yang dimaksud dengan jaringan komputer?
2. Bagaimana konsep database terdistribusi?
3. Apa pengertian dari :
a. Distributed Database?
b. Database Management System Terdistribusi?
4. Berikan contoh penerapan database terdistribusi di lingkungan sekitar anda?
5. Jelaskan keuntungan dan kerugian dalam menggunakan DBMS?
Jawaban :
1. Jaringan komputer adalah sebuah kumpulan komputer, printer dan peralatan lainnya yang terhubung dalam satu kesatuan. Informasi dan data bergerak melalui kabel-kabel atau tanpa kabel sehingga memungkinkan pengguna jaringan komputer dapat saling bertukar dokumen dan data, mencetak pada printer yang sama dan bersama-sama menggunakan hardware/software yang terhubung dengan jaringan.

2. Basis Data Terdistribusi adalah kumpulan data logic yang saling berhubungan secara fisik terdistribusi dalam jaringan komputer, yang tidak tergantung dari program aplikasi sekarang maupun masa yang akan datang. File merupakan kumpulan data yang dirancang untuk suatu aplikasi atau sekumpulan aplikasi yang dekat hubungannya. Contoh : Misalnya sebuah bank yang memiliki banyak cabang, bahkan di sebuah kota bisa terdiri dari beberapa cabang/kantor.
3. A. Distributed Database adalah database-kelompok kerja lokal dan departemen di kantor regional, kantor cabang, pabrik-pabrik dan lokasi kerja lainnya. Databaseini dapat mencakup kedua segmen yaitu operasional dan user database,serta data yang dihasilkan dan digunakan hanya pada pengguna situs sendiri.
B. Database Management System Terdistribusi adalah merupakan system software yang dapat memelihara DDBS dan transparan ke user atau program pengelolaan database yang mampu melakukan pengaksesan pada beberapa database sekaligus dan bukan merupakan kumpulan dari file yang dapat disimpan tersendiri disetiap node dari jaringan computer.
4. Contoh Pembelajaran yang diajarkan dan diterapkan oleh beberapa dosen yang ada di POLITEKNIK NEGERI JEMBER. Dalam hal pembelajaran secara online untuk mata kuliah dosen tersebut. Pembelajaran yang diterapkan Oleh Dosen Denny Trias, Dosen Nugroho.
5. Keuntungan dan Kerugian DBMS
1. Mengurangi pengulangan data
Apabila dibandingkan dengan file-file komputer yang disimpan terpisah di setiap aplikasi komputer, DBMS mengurangn jumlah total file dengan menghapus data yang terduplikasi di berbagai file. Data terduplikasi selebihnya dapat ditempatkan dalam satu file.
2. Mencapai independensi data
Spesifikasi data disimpan dalam skema pada tiap program aplikasi. Perubahan dapat dibuat pada struktur data tanpa memengaruhi program yang mengakses data.
3. Mengintegrasikan data beberapa file
Saat file dibentuk sehingga menyediakan kaftan logis, maka organisasi fisik bukan merupakan kendala. Organisasi logis, pandangan pengguna, dan program aplikasi tidak hares tercermin pada media penyimpanan fisik.
4. Mengambil data dan informasi dengan cepat
Hubungan-hubungan logis, bahasa manipulasi data, serta bahasa query memungkinkan pengguna mengambil data dalam hitungan detik atau menit.
5. Meningkatkan keamanan
DBMS mainframe maupun komputer mikro dapat menyertakan beberapa lapis keamanan seperti kata sand (password), direktori pemakai, dan bahasa sand (encryption) sehingga data yang dikelola akan lebih aman.

Kerugian DBMS
1. Memperoleh perangkat lunak yang mahal
DBMS mainframe masih sangat mahal. Walaupun harga DBMS berbasis komputer mikro lebih murah, tetapi tetap merupakan pengeluaran besar bagi suatu organisasi kecil.
2. Memperoleh konfigurasi perangkat keras yang besar
DBMS sering memerlukan kapasitas penyimpanan clan memori lebih besar daripada program aplikasi lain.
3. Mempekerjakan dan mempertahankan staf DBA
DBMS memerlukan pengetahuan khusus agar dapat memanfaatkan kemampuannya secara penuh. Pengetahuan khusus ini disediakan paling baik oleh para pengelola basisdata (DBA).Baik basis data terkomputerisasi maupun DBMS bukanlah prasyarat untukmemecahkan masalah. Namun, keduanya memberikan dasar-dasar menggunakan komputer sebagai suatu sistem informasi bagi para spesialis informasi dan pengguna.

Sumber :
http://fadel05.tripod.com/network/jaringan.html
http://bahriqu.wordpress.com/2012/01/10/keuntungan-dan-kerugian-dbms/

 

Tag: , , , ,

PENGINDERAAN JAUH / REMOTE SENSING

C. PENGINDERAAN JAUH / REMOTE SENSING


1. Istilah penginderaan jauh
Istilah penginderaan jauh merupakan terjemahan dari remote sensing yang telah dikenal di Amerika Serikat sekitar akhir tahun 1950-an. Menurut Manual of Remote Sensing (American Society of Photogrammetry 1983 dalam Jaya 2009), penginderaan jauh didefinisikan sebagai ilmu dan seni pengukuran untuk mendapatkan informasi suatu objek atau fenomena menggunakan suatu alat perekaman dari kejauahan tanpa melakukan kontak fisik dengan ojek atau fenomena yang diukur/diamati. Pada saat ini, penginderaan jauh tidak hanya mencakup kegiatan pengumpulan data mentah, tetapi juga mencakup pengolahan data secara komputerisasi dan interpretasi (manual), analisis citra, dan penyajian data yang diperoleh. Kegiatan penginderaan dibatasi pada penggunaan energi elektromagnetik.
Berdasarkan sifat sumber energi elektromagnetik yang digunakan, penginderaan jauh dibedakan atas penginderaan jauh pasif (passive remote sensing) dan penginderaan jauh aktif (active remote sensing). Penginderaan jauh pasif didefinisikan sebagai suatu sistem yang menggunakan energi yang telah ada seperti reflektansi energi matahari dan/atau radiasi dari objek secara langsung. Beberapa sensor yang menggunakan sistem ini adalah MSS, TM, ETM+, NOAA, AVHRR, MOS-1, MESSR, IRS, dan potret udara. Sedangkan penginderaan jauh aktif didefinisikan sebagai suatu sistem yang menggunakan sumber energi buatan seperti gelombang/microwave. Beberapa sensor yang menggunakan sistem ini adalah RADAR, RADARSAT, ERS-1, JERS-1, SLAR, dsb (Jaya 2009).
Kualitas data yang diperoleh dipengaruhi oleh komponen yang terlibat secara langsung. Menurut Butler et al. (1988) komponen yang terlibat pada proses pengumpulan data terdiri dari sumber energi elektromagnetik, atmosfer sebagai media lintasan energi elektromagnetik, keadaan obyek sebagai fenomena yang diamati, dan sensor sebagai alat yang mendeteksi radiasi elektromaknetik dari suatu obyek dan merubahnya menjadi sinyal yang selanjutnya dapat direkam dan diproses.

2. Komponen Penginderaan Jauh
a. Tenaga
Sumber tenaga yang digunakan penginderaan yaitu tenaga alami dan tenaga bantuan. Tenaga alami berasal dari matahari dan tenaga buatan biasa disebut pulsa. Penginderaan jauh yang menggunakan tenaga matahari disebut sistem pasif dan yang menggunakan tenaga pulsa disebut sistem aktif
b. Objek
Objek penginderaan jauh adalah semua benda yang ada di permukaan bumi, seperti tanah, gunung, air, vegetasi, dan hasil budidaya manuasi, kota, lahan pertanian, hutan atau benda-benda di angkasa seperti awan.
c. Sensor
Sensor adalaha alat yang digunakan untuk menerima tenaga pantulan maupun pancaran radioaktif elektromagnetik, contohnya kamera udara dan scanner.
d. Detector
Detector adalah alat perekam yang digunakan pada sensor untuk merekam tenaga pantulan maupun pancaran.
e. Wahana
Sarana untuk menyimpan sensor, seperti pesawat terbang, satelit dan pesawat ulang-aling.

3. Jenis Citra Penginderaan Jauh
Citra dapat digolongkan menjadi dua jenis, yaitu citra foto dan citra nonfoto.

1. Citra Foto
Citra foto adalah gambar yang dihasilkan dengan menggunakan sensor kamera. Citra foto dapat dibedakan atas beberapa dasar sebagai berikut.
a. Berdasarkan spektrum elektromagnetik yang digunakan
Pada waktu memotret objek di permukaan bumi, orang dapat memilih salah satu atau beberapa spectrum elektromagnetik berdasarkan kepentingannya. Citra foto berdasarkan spektrumnya dapat dibedakan menjadi :
1. Foto pankromatik adalah citra foto dari udara yang dibuat dengan menggunakan seluruh spectrum tampak mata mulai dari warna merah hingga ungu. Foto udara ini sering disebut foto udara konvensional. Ciri foto pankromatik adalah pada warna objek sama dengan kesamaan mata manusia, sehingga baik untuk mendeteksi pencemaran air, kerusakan banjir, penyebarab air tanah, dan air permukaan.
2. Foto ultraviolet adalah citra foto yang dibuat dengan menggunakan spectrum ultraviolet dekat dengan panjang gelombang 0,29 mikrometer. Foto ini tidak menyadap banyak informasi tetapi untuk beberapa objek dari foto ini proses pengenalannya mudah karena kontras yang besar. Foto ini sangat baik untuk mendeteksi tumpahan minyak di laut, membedakan atap logam yang tidak dicat, jaringan jalan aspal, dan batuan kapur.
3. Foto ortokromatik adalah citra foto yang dibuat dengan menggunakan spectrum tampak dari saluran biru hingga sebagian hijau (0,4 – 0,56 mikrometer). Ciri foto ortokromatik adalah banyak objek yang tampak jelas. Foto ini bermanfaat untuk studi pantai karena memiliki film yang peka terhadap objek di bawah permukaan air hingga kedalaman kurang lebih 20 meter, sehingga baik untuk survei vegetasi karena daun hijau tergambar dengan kontras.
4. Foto inframerah asli adalah citra foto yang dibuat dengan menggunakan spektrum inframerah dekat hingga panjang gelombang 0,9 – 1,2 mikrometer yang dibuat secara khusus. Ciri foto inframerah asli adalah dapat mencapai bagian dalam daun, sehingga rona pada foto inframerah tidak ditentukan warna daun tetapi oleh sifat jaringannya, sehingga baik untuk mendeteksi berbagai jenis tanaman termasuk tanaman yang sehat atau yang sakit.
5. Foto inframerah modifikasi adalah citra foto yang dibuat dengan inframerah dekat dan sebagia spectrum tampak pada saluran merah dan sebagian saluran hijau.

b. Berdasarkan sumbu kamera
Citra foto berdasarkan sumbu kamera dibedakan menjadi dua jenis yaitu.
1. Foto vertikal adalah foto yang dibuat dengan sumbu kamera tegak lurus terhadap permukaan bumi.
2. Foto condong adalah foto yang dibuat dengan sumbu kamera menyudut terhadap garis tegak lurus ke permukaan bumi. Foto condong dibedakan sebagai berikut :
– Foto sangat condong yakni bila pada foto tampak cakrawala
– Foto agak condong yakni bila cakrawala tidak tampak pada foto

Beda antara foto vertikal, foto agak condong dan foto sangat condong disajikan pada gambar berikut
Keterangan :
Gambar blok bujur sangkar dan liputan foto udara.
Gambar A foto vertikal, Gambar B foto agak condong,
Gambar C foto sangat condong.

c. Berdasarkan jenis kamera
1. Foto Tunggal
Yaitu foto yang dibuat dengan kamera tunggal. Tiap daerah liputan foto hanya tergambar oleh satu lembar foto.
2. Foto jamak,
Yaitu beberapa foto yang digunakan pada waktu yang sama dan menggambarkan daerah liputan yang sama.

d. Berdasarkan warna yang digunakan
1. Foto berwarna semu (false color) atau foto inframerah berwarna.
Pada foto berwarna semu, warna objek tidak sama dengan warna foto. Misalnya vegetasi yang berwarna hijau dan banyak memantulkan spectrum tampak merah, akan tampak merah pada foto.
2. Foto warna asli (true color), yaitu foto pankromatik berwarna.

e. Berdasarkan sistem wahana
Berdasarkan wahana dapaat dibedakan menjadi
1. Foto udara, Yaitu foto yang dibuat dari pesawat/balon udara.
2. Foto satelit atau foto orbital, Yaitu foto yang dibuat dari satelit.

2. Citra Nonfoto
Citra nonfoto adalah gambaran yang dihasilkan oleh sensor bukan kamera. Citra nonfoto dibedakan atas :
a. Spektrum elektromagnetik yang digunakan
Berdasarkan spectrum elektromagnetik, citra nonfoto dibedakan atas :
1. Citra inframerah termal adalah citra nonfoto yang dibuat dengan menggunakan s pectrum inframerah termal. Pemanfaatan spectrum itu di dasarkan atas beda temperature tiap objek yang dipantulkan ke kamera atau sensor.
2. Citra gelombang mikro dan Citra Radar adalah citra nonfoto yang dibuat dengan menggunakan spectrum gelombang mikro atau radar. Citra gelombang mikro menggunakan sumber energi alamiah ( system pasif ), sedangkan citra radar menggunakan sumber energi buatan ( system aktif ).

f. Sensor yang digunakan
Berdasarkan sensor yang digunakan, citra nonfoto dibedakan atas :
1. Citra tunggal,
yaitu citra yang dibuat dengan sensor tunggal dengan saluran lebar.
2. Citra multispektral,
yaitu citra yang dibuat dengan sensor jamak dengan saluran sempit yang terdiri dari :
• Citra RBV (Return Beam Vidicon), sensornya berupa kamera yang hasilnya tidak dalam bentuk foto karena detektornya bukan film dan prosesnya nonfotografik.
• Citra MSS (Multi Spektral Scanner), sensornya dapat menggunakan spektrum tampak maupun spektrum inframerah termal. Citra ini dapat dibuat dari pesawat udara.

g. Wahana yang digunakan
1. Citra dirgantara (Airbone Image), yaitu citra nonfoto yang dibuat dengan wahana yang beroperasi di udara (dirgantara)
2. Citra Satelit (Satellite/Spaceborne Image), yaitu citra nonfoto yang dibuat oleh sensor dari satelit yang mengitari bumi.

Kelebihan dan Kelemahan Penginderaan Jauh
Penginderaan jauh memiliki kelebihan yaitu
a. Menghemat waktu, tenaga, dan biaya;
b. Mengetahui sumber daya alam di suatu tempat;
c. Mengetahui gejala cuaca dan iklim;
d. Membuat perencanaan dan pembangunan wilayah.

Walaupun mempunyai banyak kelebihan, penginderaan jauh juga memiliki kelemahan antara lain sebagai berikut
a. Orang yang menggunakan harus memiliki keahlian khusus;
b. Peralatan yang digunakan mahal;
c. Sulit untuk memperoleh citra foto ataupun citra nonfoto.

4. Interpretasi Citra
Interpretasi citra merupakan pengkajian foto udara atau citra dengan maksud untuk mengidentifikasi objek dan menilai arti pentingnya objek tersebut.
Dalam manginterpretasikan citra, penafsir mengkaji citra dan berupaya mengenali objek melalui tahapan kegiatan sebagai berikut :
1. Deteksi adalah usaha penyadapan data secara globalbaik yang tampak maup[un yang tidak tampak. Ada tidaknya suatu objek ditentukan dalam pendeteksiannya, misalnya objek berupa sabana.
2. Identifikasi adalah usaha untuk mengenali objek yang tergambar pada citra yang dapat dikenali berdasarkan cirri yang terekam oleh sensor dengan alat stereoskop.
3. Analisis adalah pengumpulan informasi lebih lanjut setelah melakukan deteksi dan identifikasi citra.

5. Unsur-unsur Interpretasi Citra
Untuk mempermudah menafsir objek yang tergambar pada citra foto, dapat digunakan unsur-unsur yang tercermin pada objek yaitu :
1.Bentuk
Merupakan gambar yang mudah dikenali. Objek yang sejenis di muka bumi memiliki bentuk yang sejenis pada citra. Contoh : gedung sekolah pada umumnya berbentuk huruf I, L, U, atau persegi panjang, gunung api berbentuk kerucut.
2.Ukuran
Merupakan ciri objek berupa jarak, luas, tinggi, lereng, dan volume. Ukuran objek pada citra berupa skala. Contoh : lapangan olah raga sepakbola dicirikan dengan bentuk persegi panjang dan ukuran tetap yakni sekitar 80-100 m.
3.Rona
Merupakan tingkat kecerahan objek yang tergambar pada citra.
4.Tekstur
Merupakan frekuensi perubahan rona pada citra. Tekstur biasanya dinyatakan ; kasar, sedang, dan halus. Misalnya hutan bertekstur kasar, belukar bertekstur sedang, dan semak bertekstur halus.
5.Bayangan
Bersifat menyembunyikan detail atau objek yang berada di daerah gelap. Bayangan juga dapat berfungsi sebagai kunci pengenalan yang penting dari beberapa objek yang justru dengan adanya bayangan menjadi lebih jelas.
6.Pola
Merupakan ciri yang menandai banyak objek bentukan manusia dan beberapa objek alamiah. Contoh : pola aliran sungai menandai struktur biologis. Pola aliran trellis menandai struktur lipatan. Permukiman transmigrasi dikenali dengan pola yang teratur, yaitu ukuran rumah yang jaraknya seragam, dan selalu menghadap ke jalan. Kebun karet, kebun kelapa, dan kebun kopi mudah dibedakan dengan hutan atau vegetasi lainnya dari polanya yaitu berpola teratur ( pola jarak tanamnya ).
7.Situs
Merupakan letak suatu objek terhadap objek lain di sekitarnya. Contoh : permukiman pada umumnya memanjang di pinggir beting pantai, tanggul alam atau di sepanjang tepi jalan. Persawahan banyak terdapat di daerah dataran rendah, dan sebagainya.
8.Asosiasi
Merupakan keterkaitan antara objek yang satu dengan objek yang lain. Contoh : stasiun kereta api berasosiasi dengan jalan kereta api yang jumlahnya lebih dari satu (bercabang ).

6. Pemanfaatan Penginderaan Jauh
Penginderaan jauh bermanfaat dalam berbagai bidang kehidupan, khususnya di bidang kelautan, hidrologi, klimatologi, lingkungan, dan kedirgantaraan.
a) Manfaat di bidang kelautan (Seasat dan MOSS)
1. Pengamatan sifat fisis air laut
2. Pengamatan pasang surut air laut dan galombang laut
3. Pemetaan perubahan pantai, abrasi, sedimentasi, dan lain-lain.

b) Manfaat di bidang hidrologi (Landsat dan SPOT)
1. Pengamatan DAS
2. Pengamatan luas daerah dan intensitas banjir
3. Pemetaan pola aliran sungai
4. Studi sedimentasi sungai
c) Manfaat di bidang klimatologi (NOAA, Meteor, dan GMS)
a. Pengamatan iklim suatu daerah
b. Analisis cuaca
c. Pemetaan iklim dan perubahannya

d) Manfaat di bidang sumber daya bumi dan lingkungan (Landsat, ASTER, Soyus, dan SPOT)
a. Pemetaan penggunaan lahan
b. Pengumpulan data kerusakan lingkungan karena berbagai hal
c. Pendeteksian lahan kritis
d. Pemantauan distribusi sumber daya alam
e. Pemetaan untuk keperluan HANKAMNAS
e. Perencanaan pembangunan wilayah

e) Manfaat di bidang angkasa luar (Ranger, Viking, Luna, dan Venera)
a. Penelitian tentang planet-planet
b. Pengamatan benda-benda angkasa

Sumber :
http://ghinaghufrona.blogspot.com/2011/08/penginderaan-jauh-remote-sensing.html
http://mpgisamalia.blogspot.com/

 
 

Tag: ,

JENIS-JENIS CITRA SATELIT

NAMA : Ika Nur Diantika
NIM : E3110358
GOL : B

MATA KULIAH : SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS

B. JENIS-JENIS CITRA SATELIT
1. CITRA SPOT HRV
Jenis citra ini menggunakan sensor 2 pushbroom scanner identik HRV (High Resolution Visible). Wahana yang dipergunakan dalam pencitraannya adalah satelit SPOT milik Prancis. Julat panjang gelombang pada jenis citra ini antara 0,51-0,89 μm. Jumlah saluran yang dipergunakan adalah 1 pankromatik dengan panjang gelombang antara 0,51-0,73 μm dan 3 multispektral. Untuk saluran 1 pankromatik, resolusi spasialnya sebesar 10 meter, sedangkan untuk saluran 3 multispektral resolusi spasialnya sebesar 20 meter. Citra yang tercetak biasanya memiliki skala 1:25.000 sampai dengan 1:100.000.
2. CITRA SPOT HRVIR
Jenis citra ini menggunakan sensor 2 pushbroom scanner HRVIR (High Resolution Visible & Infrared). Wahana yang dipergunakan dalam pencitraannya sama dengan citra SPOT HRV yaitu satelit SPOT milik Prancis. Julat panjang gelombang pada jenis citra ini antara 0,51-1,75 μm. Jumlah saluran yang dipergunakan adalah 4 multispektral. Resolusi spasialnya mencapai 20 meter, namun khusus untuk saluran merah resolusi spasialnya sebesar 10 meter. Citra yang tercetak biasanya memiliki skala 1:25.000 sampai dengan 1:100.000.
3. CITRA NOAA AVHRR
Jenis citra NOAA AVHRR ini menggunakan 2 sensor yakni sensor AVHRR saluran 1 dan 2 serta sensor AVHRR saluran 3 dan 4. Wahana yang dipergunakan dalam pencitraannya yakni satelit NOAA milik Amerika Serikat. Untuk sensor AVHRR saluran 1 dan 2, julat panjang gelombangnya berkisar antara 0,58-1,10 μm. Jumlah saluran yang dipergunakan adalah 2 multispektral pantulan dengan resolusi spasial seluas 1,1 km (LAC). Untuk sensor AVHRR saluran 3 dan 4, julat panjang gelombangnya berkisar antara 3,55-12,5 μm. Jumlah saluran yang digunakan adalah 2 multispektral pancaran termal dengan resolusi spasial sebesar 4 km (GAC). Citra yang tercetak biasanya memiliki skala 1:1.000.000 sampai dengan 1:5.000.000.
4. CITRA ERS
Jenis citra ini menggunakan sensor antena radar. Wahana yang dipergunakan dalam pencitraannya yaitu satelit ERS milik Uni Eropa. Julat panjang gelombang pada jenis citra ini adalah 5,7 cm (pada frekuensi 5,3 GHz), band C. Jumlah saluran yang dipergunakan adalah 1 gelombang mikro/radar. Resolusi spasialnya mencapai 12,5 meter (azimuth). Citra yang tercetak biasanya memiliki skala 1:50.000 sampai dengan 1:250.000.
5. CITRA MESSR-MOS
Jenis citra ini menggunakan sensor multispectral scanner optik. Wahana yang dipergunakan dalam pencitraannya yaitu satelit MOS milik Jepang. Julat panjang gelombang pada jenis citra ini adalah 0,51-1,1 μm. Jumlah saluran yang dipergunakan adalah 4 multispektral. Resolusi spasialnya mencapai 50 meter. Citra yang tercetak biasanya memiliki skala 1:100.000 sampai dengan 1:250.000.
6. CITRA SIR-B
Jenis citra ini menggunakan sensor antenna radar. Wahana yang dipergunakan dalam pencitraannya yaitu pesawat Ulangalik Challenger. Julat panjang gelombang pada jenis citra ini adalah 23,5 cm. Resolusi spasialnya mencapai 25 meter (azimut). Citra yang tercetak biasanya memiliki skala 1:100.000 sampai dengan 1:250.000.
7. CITRA ALT, SASS, & VIRR (SATELIT SEASAT)
Citra ALT, SASS, & VIRR merupakan bagian dari sensor satelit Seasat yang mengorbit dengan sudut inklinasi 1080 pada ketinggian 800 km. ALT (radar altimeter) beroperasi pada 13,56 Hz digunakan untuk pengukuran keadaan lautan, dengan kecermatan mencapai ± 0,5 m atau 10% untuk tinggi gelombang di laut yang kurang dari 20 meter dan kesalahan akar pangkat dua rata-ratanya 10 cm untuk tinggi gelombang di laut kurang dari 20 meter. SASS (Seasat-A scatterometer system) merupakan sensor gelombang mikro aktif untuk angin yang menggunakan frekuensi transmisi 14,6 GHz, mampu menghasilkan kecermatan ± 2 m/detik. VIRR merupakan radiometer penyiaman yang beroperasi pada saluran tampak (0,49-0,94 μm) untuk menyajikan informasi kondisi awan dan saluran inframerah (10,5-12,5 μm) untuk menghasilkan informasi mengenai suhu permukaan dan bagian atas awan.
8. CITRA SAR (SATELIT SEASAT)
SAR (synthetic aperture radar) merupakan system pencitraan aktif pada saluran-L (1,275 GHz) yang mengamati sisi kanan lintas satelit dengan lebar sapuan 100 km dengan sudut datang 200. Resolusi spasialnya sama pada arah menyilang maupun azimuth 25 meter, sehingga gelombang dan spectra gelombang bagi gelombang lautan 50 m atau lebih dapat diukur. Sistem pencitraan SAR ini membantu dalam deteksi kenampakan es lautan, gunung es, batas air-lahan dan membantu dalam penetrasi badai hujan lebat.
9. CITRA SMMR (SATELIT SEASAT)
SMMR beroperasi pada frekuensi 6,6; 10,7; 18,21 dan 37 GHz dengan polarisasi vertical dan horizontal yang digunakan untuk mengamati suhu permukaan air laut dan untuk mengukur kecepatan angin. Resolusi spasialnya bervariasi dari sekitar 100km pada 6,6 GHz sampai 22 km pada 37 GHz. Kecermatan pengukuran suhu permukaan air laut sekitar ±2 K dengan kecermatan relative 0,5 K, sedangkan kecermatan pengukuran kecepatan angin sekitar ±2 m/detik untuk angin berkisar dari ±7 m/detik sampai sekitar 50 m/detik.

Sumber : http://damarwindu.blogspot.com/2009/05/jenis-jenis-citra-satelit.html

 
 

Tag: , , ,