RSS

TUGAS GIS 2 – KOORDINAT

17 Mar

NAMA : Ika Nur Diantika
NIM : E3110358
GOL : B

MATA KULIAH : SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS

TUGAS 2

1. Koordinat adalah pernyataan geomatrik yang menetukan posisi satu titik dengan mengukur besar vektor terhadap satu Posisi Acuan yang telah didefinisikan. Posisi acuan dapat ditetapkan dengan asumsi atau ditetapkan dengan suatu kesepakatan matematis yang diakui secara universal dan baku. Jika penetapan titik acuan tersebut secara asumsi, maka sistim koordinat tersebut bersifat Lokal atau disebut Koordinat Lokal dan jika ditetapkan sebagai kesepakatan berdasar matematis maka koordinat itu disebut koordinat yang mempunyai sistim kesepakatan dasar matematisnya.

2. Dalam GIS ada 2 sistem koordinat yang biasa digunakan, yaitu
1. Koordinat Geografi.
Koordinat Geografi pada Proyeksi UTM mempunyai referensi Posisi Acuan dan arah yang sama yaitu Titik Pusat Proyeksi untuk posisi dan arah utara Grid di Meridian Pusat sebagai arah acuan. Permasalahan yang timbul adalah :
1. SATUAN (unit) . Besaran Pada Koordinat Geografi dinyatakan dalam besaran sudut (derajat), besaran pada Koordinat UTM dinyatakan besaran panjang (meter).
2. Bidang persamaan, pada Koordinat geografi dinyatakan sebagai permukaan Elipsoid, sedang bidang persamaan UTM merupakan bidang datar.

2. UTM (Universal Transverse Mercator).
Pada Proyeksi UTM, sistim koordinat yang digunakan adalah Orthmetrikl 2 Dimensi, dengan satuan mete,r kesepakatan posisi titik Acuan berada di pusat proyeksi yaitu perpotongan proyeksi garis Meridian Pusat pada Zone tertentu dengan lingkaran Equator dan di-definisikan sebagai :
N(orth) : 10,000,000 m
E(ast) : 500,000 m
Penentuan Zone: Zone ditentukan dengan :

Dimana :
Bujur = Bujur ditengah daerah Pemetaan
3º = Lebar 0.5 Zone
30 = Nomor Zone di Greenwich
Kesimpulan, Parameter Koordinat UTM terdiri dari komponen North/East dan informasi Zone. (Kontur bukan merupakan parameter koordinat.)
Pada Sistim Proyeksi Lokal, titik acuan dapat berupa Patok, Paku, Pojok Bangunan dll, dengan asumsi nilai X,Y sebarang, dengan arah Utara Grid sebarang. Koordinat ini dapat pula disebut Koordinat Relatip. Jika pada kemudian hari koordinat “Patok” tersebut dapat ditentukan hubungannya terhadap Sistem Koordinat Nasional, maka Sistim Koordinat dapat diubah menjadi Sistem Koordinat Baku. Proses ini disebut juga TRANSFORMASI.

Jadi hubungan antara Koordinat Geografi dan UTM adalah :

3. Datum Adalah Ada suatu ‘tugas’ yang diberikan Pak Lurah kepada dua kelompok orang, sebut saja Kelompok A dan Kelompok B untuk mengukur jarak dua tiang listrik di depan rumah Pak Lurah. Tiang listrik sebut berbentuk silinder sempurna (tidak seperti tiang listrik pada kenyataannya, ya namanya juga mengandai-andai) dan juga tegak lurus sempurna. Kelompok A mengukur jarak antar pangkal batang, tepat di atas tanah. Kelompok B mengukur di lain waktu pada jarak antar puncak tiap tiang listrik.

Gambar 1. Jarak dua tiang berbeda pada pangkal (A) dan puncak (B)
Dengan asumsi bahwa kedua kelompok tersebut mampu mengukur tanpa adanya kesalahan (manusia, alat, dsb), hasil pengukuran kedua kelompok tersebut akan berbeda. Penyebab perbedaan adalah perbedaan referensi waktu mengukur; kelompok A mengukur di pangkal tiang, sedangkan kelompok B di ujung tiang. Lho kok bisa berbeda? Jawabannya karena kedua tiang tegak lurus sempurna. Masih ingat bukan bahwa bumi ini relatif bulat. Jarak dua tiang di pangkal (permukaan tanah) pasti lebih pendek daripada jarak dua tiang di bagian ujung.
Pak Lurah yang ngeh geospasial cuma tersenyum. Kemudian beliau mengambil hasil perhitungan dari kelompok B dan mentransfer hasil perhitungan tersebut ke referensi dimana Kelompok A melakukan pengukuran jarak tiang listrik; yaitu tepat di atas permukaan tanah. Hasil perhitungan pun sama persis. Di sini lah perlu referensi pengukuran. Pak Lurah sudah memilih referensi pengukuran di pangkal tiang listrik. Pada kasus Pak Lurah tersebut, referensi (datum) diperlukan karena jarak tiang listrik di pangkal dan di ujung berbeda akibat melengkungnya permukaan bumi.
Untuk memperjelas mengapa jarak tiang di pangkal dan ujung berbeda, kiranya bisa kita lihat dari contoh lainnya berikut. Katakanlah jarak Jakarta – Banjarbaru adalah 950.000 m (kota dianggap satu titik, pengukuran persis). Jika ada dua helikopter sedang terbang helikopter 1 terbang di atas Jakarta dan helikopter 2 di atas Banjarbaru (persisi di atas kedua titik kota tersebut), jarak antara kedua helokopter tersebut tentu akan lebih besar dibandingkan dengan jarak Jakarta-Banjarbaru karena berada pada radius lebih luar dari bumi.
Pada area yang lebih luas, jika kita mendapat informasi bahwa Jarak Jakarta – New York adalah 16.186.139 m, kita tidak akan mempertanyakan apakah jarak tersebut melengkung mengikuti permukaan bumi atau lurus menerobos tengah-tengah bumi karena kita semua sudah menerima bahwa pasti jarak tersebut adalah melengkung mengikuti permukaan bumi.
Pertanyaan selanjutnya adalah melengkung mengikuti permukaan bumi itu bagaimana? Memang bagaimana sih bentuk bumi yang dipakai sebagai referensi pengukuran, termasuk yang digunakan oleh Pak Lurah untuk mengukur jarak dua tiang listrik.
Para ahli sudah mencoba membuat suatu replika bumi ke dalam persamaan-persamaan matematis yang dinilai mendekati permukaan bumi, contohnya [W:WGS84]. Ini lah yang disebut datum. Tujuan adanya datum adalah sebagai referensi pengukuran.
Kesepahaman tentang datum yang digunakan sangat berguna dalam pengukuran. Kesepakatan tentang datum ini kiranya dapat membuat Kelompok B melakukan pengukuran jarak tiang di pangkal tiang, bukan di ujung tiang. Atau kalau pun melakukan pengukuran di ujung tiang, hasil pengukuran ditransfer (seperti yang Pak Lurah lakukan) ke hasil pengukuran di pangkal tiang (di datum). Hal terakhir lah yang kita lakukan. Kita tidak tahu di mana itu datum, mungkin beberapa puluh meter di bawah permukaan tanah yang sedang kita ukur, yang penting hasil pengukuran kita kita sematkan ke seolah-olah pengukuran di bidang datum.

4. Jenis geodetik menurut metodenya :
 Datum horizontal adalah datum geodetik yang digunakan untuk pemetaan horizontal. Dengan teknologi yang semakin maju, sekarang muncul kecenderungan penggunaan datum horizontal geosentrik global sebagai penggganti datum lokal atau regional.

Jenis geodetik menurut metodenya :
 Datum vertikal adalah bidang referensi untuk sistem tinggi ortometris. Datum vertikal digunakan untuk merepresentasikan informasi ketinggian atau kedalaman. Biasanya bidang referensi yang digunakan untuk sistem tinggi ortometris adalah geoid.

Jenis datum geodetik menurut luas areanya :
 Datum lokal adalah datum geodesi yang paling sesuai dengan bentuk geoid pada daerah yang tidak terlalu luas. Contoh datum lokal di Indonesia antara lain : datum Genoek, datum Monconglowe, DI 74 (Datum Indonesia 1974), dan DGN 95 (Datum Geodetik Indonesia 1995).

Datum regional adalah datum geodesi yang Menggunakan ellipsoid referensi yang bentuknya paling sesuai dengan bentuk permukaan geoid untuk area yang relatif lebih luas dari datum lokal. Datum regional biasanya digunakan bersama oleh negara yang berdekatan hingga negara yang terletak dalam satu benua. Contoh datum regional antara lain : datum indian dan datum NAD (North‐American Datum) 1983 yang merupakan datum untuk negara‐negara yang terletak di benua Amerika bagian utara, Eurepean Datum 1989, dan Australian Geodetic Datum 1998

5. Proyeksi adalah suatu cara dalam usaha menyajikan dari suatu bentuk yang mempunyai dimensi tertentu ke dimensi lainnya. Dalam hal ini adalah dari bentuk matematis bumi (Elipsoid atau Elip 3 dimensi) ke bidang 2 dimensi berupa bidang datar (kertas). Proyeksi peta tidak lain adalah teknik memindahkan bidang lengkung permukaan bumi ke bidang datar yang berupa peta.
Tujuan pokok suatu proyeksi peta adalah menggambarkan bentuk bola bumi/globe ke bidang datar yang disebut peta dengan distorsi sekecil mungkin. Seperti telah dijelaskan di bagian depan, untuk mencapai ketiga syarat ideal suatu proyeksi adalah hal yang tidak mungkin, dan untuk mencapai suatu syarat saja untuk menggambarkan seluruh muka bumi juga merupakan hal yang tidak mungkin. Yang mungkin dipenuhi ialah salah satu syarat saja dan itupun hanya untuk sebagian dari permukaan bumi. Suatu kompromi atau jalan tengah antara syarat-syarat di atas bisa diambil, guna memungkinkan membuat kerangka peta yang meliputi wilayah yang lebih luas.

Macam – Macam Bidang Proyeksi Peta

6. Macam – Macam proyeksi peta
Proyeksi peta dapat dibedakan sebagai berikut:
a. Menurut Bidang Proyeksinya
1. Proyeksi Azimuthal/zenithal/planar bila bidang proyeksinya berupa bidangdatar.
2. Proyeksi silinder bila bidang proyeksinya berupa silinder atau tabung.
3. Proyeksi kerucut bila bidang proyeksinya berupa kerucut atau cone.

b. Menurut Posisi Bidang Proyeksinya Terhadap Bola Bumi
1. Proyeksi tegak atau normal, jika garis karakteristik bidang proyeksi berimpitdengan sumbu bola bumi.
2. Proyeksi melintang atau transversal atau equatorial, bila garis karakteristik bidang proyeksi berpotongan tegak lurus dengan umbu bola bumi.
3. Proyeksi oblique atau miring, bila garis karakteristik bidang proyeksinya membentuk sudut lancip dengan sumbu bola bumi.

c. Menurut Sifat Distorsinya
1. Proyeksi ekuidistan, bila jarak di permukaan bumi sama dengan jarak di peta menurut skalanya.
2. Proyeksi konform, bila sudut/bentuk di permukaan bumi sama dengan bentuk di peta.
3. Proyeksi ekuivalen, bila luas di permukaan bumi sama dengan luas di peta setelah diskalakan.

d. Menurut Posisi Pusat Proyeksi
1. Proyeksi Gnomonis, bila pusat bola bumi merupakan pusat sumber proyeksi.
2. Proyeksi Stereografis, bila pusat sumber proyeksi terletak pada titik di permukaan bumi.
Proyeksi Ortografis, bila pusat sumber proyeksi berasal atau terletak di tempat yang sangat jauh tidak terhingga sehingga garis-garis proyeksi dianggap sejajar.

SUMBER :
http://geografiuntukmu.blogspot.com/2011/04/proyeksi-peta.html
http://gis-indonesia.blogspot.com/2011/05/sistem-proyeksi-koordinat-utm-universal.html
http://www.raharjo.org/rsgis/apa-itu-datum.html
http://ariyanto.staff.uns.ac.id/files/2010/05/2-indraja.pdf

 
 

Tag: , , , , ,

2 responses to “TUGAS GIS 2 – KOORDINAT

  1. tulisanhanafi

    3 April 2012 at 4:04 am

     
  2. Dianee Chan

    20 April 2012 at 2:35 am

    Makasih telah berkunjuung..!!!!Sering sering…

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: